Mengenali Bahayanya Nyamuk Aedes Aegypti

0

news.inderawaspada.com, Cirebon – Nyamuk aedes aegypti merupakan faktor utama penyebab penyakit demam berdarah (DBD), sedangkan aedes albopictus merupakan penyebab sekunder DBD.

Maka dari itu, masyarakat tak hanya perlu mengenali ciri-ciri fisik nyamuk penyebab DBD, namun juga siklus hidupnya agar lebih waspada dan tahu cara paling tepat untuk menghindarinya.

Untuk itu, nyamuk aedes aegypti aktif pada pagi hari, antara pukul 08.00 – 10.00 dan sore hari, pukul 15.00 – 19.00.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nanang Ruhyana menjelaskan, Nyamuk DBD biasa menggigit pada pagi hari hingga sore hari. “Pagi biasanya antara jam 6 sampai jam 10, dan untuk sore hari biasanya jam 5 hingga 7 sore,” kata dia.

Menurutnya, nyamuk DBD berbeda dengan nyamuk biasa dan tanda-tanda nyamuk tersebut mempunyai ciri khas yakni warna hitam dan putih (belang-belang). “Putih sama hitam dan itu menggigitnya tadi, jadi kalau malam-malam digigit nyamuk itu bukan berarti nyamuk DBD akan tetapi itu nyamuk Culex biasanya,” ujar Nanang.

Dijelaskanya, untuk menghindari dari gigitan nyamuk tersebut seperti memakai kelambu untuk bayi, lotion anti nyamuk dioleskan ke tubuh dan lain sebagainya. “Dan juga dirumah selalu melakukan 3 M plus (Menutup, Menguras, Mengubur) dan plusnya ini biasanya dilupakan plus setelah kita menguras lalu memberi bubuk abate tersedia di Puskesmas dan gratis,” terangnya.

Dikatakanya, untuk pencegahan secara biologis agar menanam bunga lavender. “Atau juga ditempat-tempat penampungan air yang susah dijangkau memelihara ikan cupang,” terangnya.

Masih dikatakanya, berdasarkan data Dinas Kesehatan, awal 2019 ini tercatat 37 kasus DBD di Kabupaten Cirebon. “Awal tahun ini (Januari) untuk kematian nihil, dan jika dibandingkan di tahun 2018 lalu di bulan yang sama yaitu ada 27 kasus DBD ada kenaikan sedikit pada tahun ini,” tandasnya.

Dijelaskannya, adapun ciri-ciri seseorang terjangkit DBD diataranya mengalami demam (panas) yang sangat tinggi sampai 39 derajat celcius.

“Biasanya ada kalau di masyarakat, anak tersebut rewel dan mungkin kalau yang sudah dewasa dia akan berbicara sakit di ulu hati, sakit di kepala, badanya panas,” kata Nanang saat itu.

Menurutnya, jika sudah masuk ke ranah kesehatan, pihaknya akan memeriksa trombositnya ke laboratorium.

“Kalau Trombositnya ada penurunan biasanya akan di curigai. Tetapi ada penegasan diagnosa dengan melakukan pemeriksaan laboratarium tes IGD dan IGM inilah, yang akan menentukan apakah seseorang ini postif atau tidaknya terjangkit DBD,” tutupnya. (Mu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: