Kabid Dinkes Menilai PSN dan 3 M Lebih Utama Memberantas DBD

0

news.inderawaspada.com – Penyemprotan fogging bukanlah hal utama untuk memberantas sarang nyamuk Demam Berdarah (DBD) Aedes aegypti, namun hanya bisa membunuh nyamuk DBD dewasa tidak sampai ke telur-telurnya.

Karena fogging mengandung zat kimia berbahaya seperti insektisida yang tidak baik untuk kesehatan tubuh manusia dan ekosistem alam.

Oleh karena itu, pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta melakukan 3 M plus (Menutup, Menguras, Mengubur) dinilai tepat untuk memberantas jentik-jentik nyamuk DBD. Pasalnya dengan kegiatan tersebut lingkungan menjadi bersih dan sehat.

Tak tanggung-tanggung nyamuk DBD berjenis kelamin betina dapat berkembang biak menghasilkan 50 buah butir telur hingga 100 telur.

Menanggapi hal itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nanang Ruhyana mengatakan, fogging merupakan langkah terakhir dari penanggulangan nyamuk DBD, namun hanya memfokuskan kepada nyamuk yang sudah dewasa.

Dijelaskannya, hal yang paling utama untuk penanggulangan nyamuk DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta melakukan 3 M plus.

“Itu yang perlu dilakukan oleh masyarakat, tetapi bukan tanggung jawab Dinas Kesehatan akan tetapi tanggung jawab masyarakat semua pada umumnya,” ujar Nanang disela-sela kesibukan, Kamis pagi (21/3).

Menurutnya, tugas dari Dinas Kesehatan untuk membina masyarakat dalam hal mengerahkan bagaimana tata cara melakukan PSN tersebut. “Sekali lagi, fogging itu bukan cara untuk menyelesaikan masalah DBD akan tetapi merupakan langkah akhir untuk memberantas nyamuk yang sudah dewasa,” katanya.

Hal itu, kata dia, ada beberapa kriteria dalam pelaksanaan fogging, pertama jika ada beberapa penyebaran kasus DBD. “Mungkin di masyarakat mesti menunggu dulu, ada dua kasus (DBD) atau tiga kasus (DBD),” terangnya.

“Artinya tidak menunggu seperti itu, sepanjang ada kasus yang mirip dengan yang sudah positif berarti kita akan lakukan fogging dengan harapan kita fokus kepada nyamuk yang ada disitu,” sambungnya.

Nanang menjelaskan, jika tidak ada penyebaran seperti terdapat 1 kasus DBD, pihaknya melakukan penyelidikan epiderologi. “Yang pertama adalah selama seminggu ini aktivitas tersebut yang dilakukan oleh penderita kemana saja dan kalau dia (penderita) ke luar kota berarti digigitnya di luar kota, jadi hanya ada kasus disitu,” jelasnya.

“Tidak ada indikasi untuk dilakukan fogging,” imbuhnya.

Dia mengatakan, sejauh ini pihaknya melakukan upaya sosialisasi penyuluhan dan edukasi untuk masyarakat. “Ini bukan semata-mata fogging ini menyelesaikan penyakit DBD, bukan,” tuturnya.

Baginya, banyak dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat jika fogging tersebut dilakukan karena udara yang dihirup oleh penduduk sekitarnya mengandung insektisida yang berbahaya. “Jadi kita harus hati-hati,” tegasnya.

Nanang menambahkan, dampak yang kedua akibat fogging adalah terhadap ekosistem makhluk hidup yang berada didalam bawah tanah terancam punah. “Jadi kalau terus-terusan dilakukan fogging, dia (makhluk hidup) akan mati. Akhirnya simbiosis mutualisme yang ada dilingkungan itu akan punah,” terangnya.

Sehingga, kata dia, bakteri penyubur tanah akan mati sehingga tanah tersebut menjadi gersang. “Kenapa di fogging ini selalu hati-hati kita lakukan? Jadi banyak hal-hal yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.

Dirinya pun selalu mengingatkan, jika sebelum dilakukan fogging agar selalu menutup makanan dan minuman. “Kemudian binatang-binatang seperti Burung untuk dijauhkan, kita harus memakai masker,” tukasnya.

“Karena dampak dari situ (fogging) berarti didalam aliran darah kita nanti akan ada bahan-bahan kimia, mungkin tidak terasa sekarang mungkin 10 tahun atau 20 tahun mendatang akan mengakibatkan kanker darah,” sambungnya.

Oleh karena itu, Nanang pun mengatakan, jika PSN sasaranya yakni untuk memberantas telur nyamuk DBD hingga nyamuk dewasa. “Tempat dan perindukan nyamuk, jadi sebelum dia (nyamuk) bisa terbang kita musnahkan dahulu. Dari mulai telur, larva, sebelum dia menjadi nyamuk, itu yang kita musnahkan,” tandasnya.

Menurutnya, masyarakat harus tahu dimana tempat perindukan, perkembang biakannya nyamuk tersebut “Itu satu di air yang jernih, bersih dan tidak bersentuhan langsung dengan tanah,” terangnya.

“Berarti ditempat-tempat penampungan air, botol, ban bekas yang ada dilingkungan kita. Bisa juga disitu ada kantong plastik yang ada airnya kemudian nyamuknya bertelur dan menetas,” imbuhnya. Mu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: