20 Ribu Balita di Cirebon Menderita Stunting

0

news.inderawaspada.com, Cirebon– Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama.

Oleh karena itu, stunting pada umumnya terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh badan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, jumlah stunting sangat mengejutkan. Karena mencapai sekitar 10,9% atau sekitar 20 ribu jiwa balita penderita stunting dari hasil pemeriksaan bulan penimbangan balita 2018 lalu.

Kendati demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya 2017 lalu capai 11,5% atau sekitar kurang lebih 23 ribu jiwa balita.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, berupaya mengurangi jumlah balita yang menderita stunting melalui sosialisasi kampanye stunting yang akan dihelat pada (23/1/2019) nanti di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Cirebon.

Foto: Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kabupaten Cirebon, Dr. Edi Susanto

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dr. Edi Susanto mengatakan, upaya penanganan penyakit stunting merupakan skala prioritas dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

“Oleh karena ini di kita ada 10 desa terintervensi stunting dari enam Kecamatan, bahwa salah satunya kita harus melalukan sosialisasi kampanye dari tingkat Kabupaten sampai tingkat Desa,” katanya, Rabu (16/1) lalu.

Menurutnya, stunting ini merupakan salah satu kerugian negara secara ekonomi namun pihaknya berupaya memperbaikinya melalui perbaikan gizi.

“Perbaikan gizi yang kronis ini, stunting pada anak ini dari mulai masa kehamilan 1000 hari kehidupan itu sampai balita harus diselamatkan dengan gizi yang baik,” terang dia.

Ia menambahkan, sehingga masa golden periode tersebut menyebabkan masalah jika gizinya baik maka perkembangan balita juga baik. “Tumbuh kembangnya bagus, menghasilkan anak-anak yang cerdas dan baik,” ucap Dr Edi.

Dia kembali menyebutkan, bahwa stunting merupakan kerugian negara pasalnya stunting merupakan kekurangan gizi kronik. “Baik secara fisiknya adalah kurus dan pendek dan fungsi kognitifnya tumbuh kembangnya otaknya dalam sosialisasi masyarakat, teman sebaya, pergerakanya juga berkurang, lesu jadi tidak mudah bergaul,” tukasnya.

“Ini menyebabkan kemunduran, lambat dalam berpola fikir sehingga otomatis kalau generasi kita seperti itu, apa yang terjadi? Dalam usia sekolah kan negara rugi. Itu yang menyebabkan pemerintah pusat sampai ke daerah penanganan stunting,” sambung Dr. Edi.

Dijelaskanya, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, fokus dalam upaya penanganan stunting sehingga pihaknya akan melaksanakan upaya penindakan terhadap stunting.

“Dari mulai Asi eklusif, PMT yang berkala reguler setiap tahun dari APBD, dari APBN terus juga pemberian tablet penambah darah, imunisasi. Itu salah satu komitmen kami dari Dinas Kesehatan,” jelasnya.

Dikatakanya pada (23/1) mendatang, pihaknya akan berkampanye sosialisasikan tentang stunting bertempat dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Cirebon. “Nanti dilapangan Setda. Bahwa harus mengerti, bagaimana masyarakat mengerti apa yang dinamakan stunting,” kata dia.

“Jadi penanganan stunting bukan tugas dari Dinas Kesehatan sendiri, tetapi tugas secara bersama dan salah satu contoh: Dinsos, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Dinas Lingungan Hidup, Dinas PUPR, itu jadi salah satu faktor-faktor pendukung,” imbuhnya.

Ia mengajak seluruh lintas OPD untuk bersama-sama menangani stunting.

“Sehingga bisa menurunkan angka stunting di Kabupaten Cirebon, mudah-mudahan 2023 bebas stunting,” tegasnya.

Menurutnya, jumlah stunting di Kabupaten Cirebon saat ini mencapai 10,9% dari jumlah bulan penimbangan balita dengan sekitar 900 balita yang diperiksa pada 2018 lalu.

“Atau sekitar 20 ribu jiwa balita penderita stunting,” terang dia.

Baginya, jumlah tersebut merupakan proses lama yang tidak diketahuinya.

“Karena dari awal tadi, dengan perkawinan pasangan usia yang muda atau pola asuhnya. Intinya balita ini tidak dapat nutrisi gizi yang baik, nutrisi yang memenuhi masa balita tersebut sehingga kekurangan gizi yang kronis lama otomatis otaknya tidak berkembang dengan baik,” ujar dia.

Ia berharap, dengan adanya kampanye nanti, bahwa bentuk kampanye stunting tersebut merupakan kerja bersama antar lintas OPD.

“Stunting itu menjadi pencegahan besar, lintas OPD dan prinsipnya stunting ini jangan sampai bertambah banyak. Artinya harus berkurang stunting melalui kerja bersama dan pada saat acara berlangsung di ketuai oleh Pak PJ Bupati Cirebon, Dicky Saromi,” tutup Dr. Edi akhiri perbincangan. (Mu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.