Tanggapi Ketersediaan Tinta Ribbon di Disdukcapil Kab Cirebon, Ivan: Jangan-jangan

0

Cirebon, inderawaspada.com- Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Cirebon, yang akhir-akhir ini tengah kesulitan mendapatkan tinta Ribbon untuk percetakan dokumen kependudukan seperti KTP-el menuai tanggapan dari aktivis Cirebon, Ivan Maulana. 

 

Ivan menilai minimnya ketersediaan tinta Ribbon di Disdukcapil Kabupaten Cirebon dapat menggangu pelayanan publik khususnya dalam hal percetakan dokumen kependudukan seperti KTP-el.

 

 

“Sedangkan disaat pelayanan publik ini tersendat berarti ada hak masyarakat yang diambil, karena bagaimana pun juga data kependudukan itu sangat diperlukan sekali oleh masyarakat,” ujar Ivan disela-sela kesibukannya, Rabu (9/6/2021).

 

 

Menurut Ivan, terkait persoalan Disdukcapil Kabupaten Cirebon sampai kehabisan tinta Ribbon merupakan hal yang luar biasa bagi dirinya.

 

 

“Nah sekarang persoalannya disini sampai dengan dinas kehabisan tinta ini luar biasa bagi saya,” ucapnya.

 

 

Tidak sampai disitu, ia juga mempertanyakan proses pembelian tinta Ribbon melalui E-Katalog yang telah berjalan pada tahun-tahun sebelumnya.

 

 

“Makanya disini ada kata-kata bahwa proses pembelian tinta harus melalui lelang e-katalog. Nah pertanyaan saya sederhana? Pada saat lelang e-katalog ini pihak perusahaan yang ditunjuk pada saat itu kira-kira bisa memberikan tinta Ribbon tidak? Manakala ada hal urgensi seperti ini,” terang Ivan.

 

 

“Sebagai bentuk penanggulangan lah, barangkali bisa belinya tidak harus melalui online. Jadi belinya secara tunai kepada perusahaan tersebut, agar dinas bisa melalukan pelayanan tetap kepada masyarakat. Nah kalau ada kata seperti ini jugakan buat lelang kedepan, dinas harus mengevaluasi perusahaan yang kemarin ditunjuk,” imbuhnya.

 

 

Usai dirinya mendapatkan kabar bahwa pihak dinas terkait pernah pergi ke Jakarta dan hanya mendapatkan 8 buah tinta Ribbon. Hal ini baginya merupakan suatu yang luar biasa.

 

 

“Sedangkan disini (Disdukcapil) proses pelayanan harus berjalan terus, nah berarti disini pertanyaannya dinas apakah ada main mata? Karena bagi saya disini juga saya harus menilai secara obyektif,” jelas Ivan.

READ  Pahlawan Nasioanl, Perjuangan Ki Bagus Rangin dan Ki Bagus Arsitem

 

 

Ia melanjutkan, jika dengan cara seperti hal tersebut menandakan bahwa dinas terkait tidak dapat menghitung dengan cermat pada saat proses pengadaan barang seperti, blangko KTP-el maupun tinta Ribbon.

 

 

“Seharusnya idealnya adalah manakala blangko habis itu juga harus berbarengan dengan tinta habis. Karena mereka bukan sehari dua hari ngurusin hal seperti ini, mereka hitungannya lebih pahamlah dibandingkan dengan saya,” tuturnya.

 

 

Akan tetapi, kata dia, dengan adanya seperti hal tersebut dapat mengundang pertanyaan. Dimana yang seharusnya masyarakat dapat dilayani dengan baik, akan tetapi hanya kekecewaan yang didapatkan.

 

 

“Ketika mereka datang ke pelayanan, tutup. Sedangkan jam kerja masih berjalan. Jadi pertanyaan kita sederhana, ini mau bagaimana? Dan disini juga Inspektorat harus turut serta nih bagaimana metode pengawasannya sampai dengan hal ini bisa terjadi karena ini menyangkut pelayanan publik,” tegasnya.

 

 

 

Ivan berharap kepada dinas terkait agar kedepannya dalam menghitung perencanaan pembelian alat tulis kantor (ATK) haruslah matang.

 

 

“Karena bagaimana pun juga yang namanya perencanaan ini masuk di RAPBD sampai akhirnya jadi APBD berarti disinikan harus ada hitung-hitungan yang matang,” ujar Ivan.

 

 

“Kalau ada kata modelnya begini saya khawatir, jangan-jangan pada saat perencanaan mereka hanya menggunakan sistem copy paste dua tahun anggaran sebelumnya. Sehingga pelayanan publik yang hari ini ternyata jauh lebih meningkat mereka tidak bisa menanggulangi, dan mereka gak bisa memprediksi,” sambungnya.

 

 

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk (Dafduk) Disdukcapil Kabupaten Cirebon, H Sarko pernah mengungkapkan sulitnya mendapatkan tinta Ribbon dapat berimbas kepada pelayanan percetakan KTP-el.

 

READ  Ketum PWRI Dr. Suriyanto PD : Pembakaran Rumah Wartawan di Binjai Tindakan Biadab dan Tidak Bermoral

 

“Berdampaknya ke pelayanan, kita tidak bisa melayani masyarakat secara maksimal. Karena salah satu yang harus dilengkapi oleh Disdukcapil dalam hal pencetakan KTP-el, salah satunya harus ada Ribbon,” kata H Sarko diruang kerjannya pada Selasa (8/6/2021) sore.

 

 

Ia menuturkan, pihaknya kesulitan mendapatkan tinta Ribbon dikarenakan belum adanya pengadaan atau lelang tinta tersebut melalui proses E-Katalog.

 

 

“Jadi tinta Ribbon sekarang lagi menjadi kesulitan kita, karena belum adanya pengadaan atau belum adanya lelang. Lelang kita nunggu tayang E-Katalog, memang saat ini (lelang) masih belum ada,” ujarnya.

 

 

“Itupun bukan kita yang mengadakan tetapi pengadaan tinta Ribbon adanya di sekretariat, karena alat tulis kantor (ATK) adanya di sekretariat. Kita hanya pemakai atau sebagai user. Jadi kita mengambil (ATK) di sekretariat untuk kebutuhan di Disdukcapil,” imbuhnya.

 

 

Menurutnya, pengambilan tinta Ribbon tidak dapat dijadwalkan setiap hari maupun setiap bulannya. Ia menjelaskan, satu buah tinta ribbon dapat digunakan untuk mencetak 500 keping KTP-el.

 

 

“Cuma kita pernah datang kesana (Jakarta) cuma kebagian 8 tinta Ribbon, pengambilan tinta Ribbon tergantung ketersediaan,” kata H Sarko.

 

 

Sejak mulai adanya kelangkaan tinta Ribbon, dirinya mengaku mendapatkan beragam macam keluhan dari masyarakat tentang pelayanan pembuatan dokumen kependudukan KTP-el yang dinilai lamban.

 

 

“Karena saya juga gak enak sih, karena masyarakat juga wajar ngomong yang macem-macem. Karena dia tidak tahu yang sebenarnya yang menghambat pelayanan percetakan KTP-el itu apa? Mereka tahunnya bikin KTP-el sekarang lama dan susah,” tutur dia.

 

 

“Memang benar ketersediaan tinta Ribbon itu kurang, otomatis pelayanan yang diberikan ke masyarakat pasti menurun,” lanjut H Sarko.

 

 

Masih menurutnya, semenjak mengalami kesulitan mendapatkan tinta Ribbon angka percetakan KTP-el dalam setiap hari mengalami mengalami cukup penurunan.

READ  Uu Ruzhanul Sebut Aksi Terorisme Cederai Kemanusiaan

 

 

“Kita fluktuatif juga tidak stagnan, kadang kita pernah mencetak 700, 800, 900, hingga 1000 keping blangko KTP-el. Soalnya hari ini merupakan tinta Ribbon yang terakhir, kalau tinta hari ini sudah habis mungkin besok off lagi,” ucap dia.

 

 

Dia membandingkan percetakan KTP-el dalam setiap harinya sebelum pihaknya mengalami kesulitan mendapatkan tinta Ribbon. Ia menjelaskan, rata-rata setiap harinya mencapai 1200, 1300 hingga maksimal 1500 keping blangko KTP-el.

 

 

“Cuma kalau 1500 keping blangko KTP-el jarang, karena bisa saja pas petugas operator gak masuk satu misalnya, otomatis pengaruh pada jumlah percetakan KTP-el,” katanya.

 

 

Meski begitu, ia berharap pada bulan Juni 2021 bisa dilakukan pengadaan tinta Ribbon sehingga Disdukcapil Kabupaten Cirebon dapat melayani masyarakat dengan maksimal.

 

 

“Maksimal itu sesuai kemampuan dalam artian disesuaikan dengan kondisi mesin percetakan, disesuaikan dengan kemampuan operatornya. Karena kemampuan mesin itu cetak 1500 keping blangko KTP-el,” tuturnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: