Begini Strategi Distan Kabupaten Cirebon Dalam Mengatasi Ancaman Puso 

0

Cirebon, inderawaspada.com- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak La Nina. Saat ini, dampak dari La Nina itu mengakibatkan 6.282 hektare lahan pertanian terdampak oleh banjir. Dari angka itu, sebanyak 3.074 hektare mengalami puso atau gagal tanam. Namun begitu, Distan Kabupaten Cirebon telah mengupayakan lahan pertanian yang terdampak oleh banjir agar dilakukan replanting atau penanaman ulang. 

 

 

 

 

“Tentu ini menjadi perhatian kita untuk ditindaklanjuti, sebetulnya yang gagal tanam itu sekarang mereka para petani sudah menanam kembali atau tanam ulang,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Wasman di kantor Distan setempat, Jumat (26/2/2021) pagi.

 

 

 

 

 

Ia menjelaskan tanaman padi yang mengalami puso atau gagal tanam akibat dampak banjir itu rata-rata berusia 1 pekan hingga berusia 1 bulan.

 

 

 

 

 

“Ini puso karena gagal tanam, kemarin yang kena banjir ada yang 1 Minggu, dan ada yang baru 1 bulan,” tuturnya.

 

 

 

 

 

Wasman mengungkapkan beberapa strategi itu yakni, bahwa pihaknya intens melakukan inventarisir data para petani yang lahan pertaniannya terdampak oleh banjir. Hal ini dilakukan agar mereka para petani mendapatkan bantuan benih padi.

 

 

 

 

“Itu tentu tidak instan, sekarang lagi diusulkan ke Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Provinsi. Nanti insyaallah paling cepat digadu satu, mereka mendapatkan penggantian benih padi atau paling lambat-lambatnya mungkin di rendang tahun ini untuk musim tanam (MT) tahun 2021-2022,” terangnya.  

 

 

 

 

“Mudah-mudahan melalui usulan kita, petani akan memperoleh bantuan benih padi langsung dari Kementerian Pertanian (Kementan),” imbuh Wasman.

READ  Beredar Foto Tak Kenakan Masker Saat Razia, Ini Klarifikasi Kabid Keselamatan Dishub Kabupaten Cirebon

 

 

 

 

Selain itu, Distan Kabupaten Cirebon mendorong para petani untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang dapat memberikan jaminan atas lahan garapan petani. Ia menjelaskan bahwa AUTP merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bekerjasama dengan PT. Jasindo

 

 

 

 

 

“Cuma sayang jadi ini proses adopsi inovasi untuk asuransi ini (AUTP) belum menyeluruh kepada petani karena sesuatu hal, biasanya petani merasa enggan karena harus bayar premi,” katanya.

 

 

 

 

 

Ia menyebutkan bahwa saat ini yang baru terdata dalam AUTP pada musim tanam ini kurang lebih 2.300 hektare. Menurut dia, AUTP dapat mengcover jumlah keseluruhan luas lahan pertanian di Kabupaten Cirebon.

 

 

 

 

 

“Padahal kita kalau keseluruhan mau masuk asuransi AUTP boleh,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Oleh karena itu, ia menyampaikan sosialisasi beberapa manfaat dari AUTP untuk para petani. Sebab, usaha di sektor pertanian khususnya usaha tani padi dihadapkan pada resiko ketidakpastian yang cukup tinggi, antara lain kegagalan panen yang disebabkan perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit, organisme penggangu tumbuhan (OPT) yang menjadi sebab kerugian usaha petani.

 

 

 

 

“Mudah-mudahan kita sambil edukasi kepada petani sudah tahu resikonya, sudah tahu manfaat asuransi. Mudah-mudahan semakin kesini dan semakin paham petani,” ucap Wasman.

 

 

 

 

Lanjutnya, pemerintah saat ini memberikan solusi terbaik berupa program AUTP, yang diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap resiko ketidak pastian dengan menjamin petani mendapatkan klaim asuransi tersebut.

 

 

 

 

“Sebetulnya premi itu relatif murah, hanya Rp 36 ribu per hektare atau per musim. Apabila terjadi puso atau kegagalan tanam lebih dari 70 persen bisa diklaim oleh PT Jasindo senilai Rp 6 juta,” jelas Wasman.

READ  Adakan Bimtek Budidaya Ayam Ternak, Kementan Bertekad Entaskan Kemiskinan

 

 

 

 

Soal Ketersediaan Pupuk 

 

 

 

Plt Kadistan Kabupaten Cirebon, Wasman juga membicarakan tentang ketersediaan pupuk subsidi. Ia mengatakan bahwa sebagian alokasi pupuk subsidi pada musim tanam (MT) 2020-2021 telah hilang karena banjir. Meskipun begitu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan produsen pupuk Kujang serta Petrokimia Gresik.

 

 

 

 

 

“Untuk NPK-nya Petrokimia Gresik, untuk Kujangnya pupuk urea. Supaya nanti dalam inputan baru, kita bisa diinput lagi. Sehingga, petani tidak kekurangan pupuk subsidi,” ujar Wasman.

 

 

 

 

 

Kendati demikian, ia memprediksi ketersediaan pupuk subsidi berkurang. Prediksi itu ia kemukakan karena subsidi pupuk secara nasional juga pun berkurang.

 

 

 

 

 

“Nah petani kalau sudah habis jatah pupuk subsidinya, karena terbatas itu harus bisa membeli pupuk non subsidi. Mudah-mudahan, harganya terjangkau semua oleh petani,” ungkapnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: