Akibat Puso, Kerugian Lahan Pertanian di Kabupaten Cirebon Capai Rp 4,5 Miliar

0
Cirebon, inderawaspada.com- Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mencatat sepanjang musim tanam pada periode 2020-2021 menyebabkan 6.282 hektare lahan pertanian padi terdampak oleh banjir. Dari angka itu, 3.074 hektare mengalami puso atau gagal tanam. 

 

 

 

“Untuk musim tanam 2020 hingga 2021 atau musim penghujan ini, sejak Januari sampai sekarang gagal tanam atau puso karena terdampak banjir,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan, Distan Kabupaten Cirebon, Herman Hidayat diruang kerjannya pada Rabu (24/2/2021) siang.

 

 

 

Oleh sebab itu, pihaknya juga mencatat potensi kerugian pertanian sebanyak kurang lebih Rp 4,5 miliar. Ia menjelaskan hitungan kerugian itu berdasarkan luas lahan setiap hektare yang mengalami puso.

 

 

 

“Diperkirakan per hektare kerugiannya Rp 1,5 juta, kalau dari kita yang replanting atau tanam kembali saja inikan ada 3.074 hektare dikali Rp 1,5 juta jadi kurang lebih Rp 4,5 miliar,” tutur dia.

 

 

 

Ia menyebutkan lahan tanaman padi yang mengalami puso tersebar di sejumlah desa yang berasal dari Kecamatan Kapetakan, Suranenggala, Gunungjati, Panguragan, Gegesik, Susukan, dan Losari dengan luas bervariasi.

 

 

 

“Tanaman padi yang mengalami puso harus kita replanting atau tanam kembali, dan upaya kita harus memberikan support dan membantu kepada mereka (petani),” terangnya.

 

 

 

Walaupun jumlah lahan tanaman padi yang mengalami puso cukup banyak, lanjut dia, ternyata sudah ada petani yang mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang memberikan jaminan atas lahan garapan petani ketika dilanda banjir atau serangan hama.

 

 

 

“Maka diharapkan semuanya untuk ikut asuransi PUTP, alhamdulillah sebagian sudah masuk asuransi AUTP. Ketika terdampak banjir, sudah ada yang mengajukan klaim, sudah banyak yang mengajukan ke kami nanti supaya diurus Jasindo-nya,” jelas Herman.

 

READ  Ketua Mahkamah Agung Lantik Tiga Kadilmiti

 

 

Meskipun begitu, Herman mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya mengusulkan alokasi bantuan benih padi kepada pemerintah pusat.

 

 

 

“Kita juga sudah mengusulkan untuk bantuan benih padinya, supaya petani bisa menanam kembali. Yang selanjutnya, terkait dengan pupuk subsidi karena pupuk ini berdasarkan RDKK,” ucap dia.

 

 

 

“Kemudian juga kita mengusulkan untuk support ke masyarakat, bagaimana untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan menggunakan pupuk hayati,” imbuhnya.

 

 

 

Selain itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan BBWS setempat dalam hal penanggulangan permasalahan banjir.

 

 

 

“Tentunya permasalahan pokoknya dimana, apalagi curah hujan ini cukup tinggi. Kemudian ada beberapa irigasi sungai perlu dinormaliasasi sehingga aliran air irigasi sungai ke lautnya lancar,” papar dia.

 

 

 

Kendati demikian, ia mendorong para petani untuk mengikuti program asuransi AUTP yang memberikan jaminan atas lahan garapan petani ketika dilanda banjir atau serangan hama.

 

 

 

“Kedepan, petani harus semangat terus dan bagi mereka tolong masuk ke AUTP ketika kendala atau peristiwa apapun kita sudah bisa menanam kembali,” kata Herman akhiri perkataannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: