PERTOLONGAN KOMPENI UNTUK CIREBON DAN GEBANG

0

Pada saat kekuasaan Mataram runtuh akibat hancurnya pusat kerajaan oleh serbuan Pangeran Trunajaya dengan para sekutu Jawa serta Makassarnya, daerah-daerah yang semula dikuasai Susuhunan menjadi kacau balau dan sangat rawan. Terlebih daerah yang jauh dari pusat kekuasaan atau kawasan yang dikenal sebagai wilayah mancanegara, bisa dipastikan daerah itu tidaklah aman.

Terkait daerah-daerah itu, tidak ada jaminan keamanan sama sekali dari penguasa Kartasura, mengingat Amangkurat II yang baru dilantik menggantikan mendiang Amangkurat I pun lebih sibuk mengurusi urusan tahtanya sendiri ketimbang hal-hal lain, termasuk ketertiban wilayah kekuasaannya yang sangat luas itu. Kawasan terjauh Mataram menjadi sarang-sarang penyamun.

Salah satu pengacau yang cukup terkenal adalah Namrud, seorang pria asal Makassar yang dalam perang melawan Kompeni disana merupakan salah atu komandan pasukan yang heroik. Saat Makassar kalah, ia menyingkir bersama banyak orang Makassar lain yang tidak ingin bekerja sama dengan VOC dan memilih untuk mengasingkan diri ke Jawa guna memperkuat kekuatannya.

Sebetulnya, kekacauan yang disebabkannya itu adalah suatu bentuk perlawanan terhadap tirani Amangkurat dan Kompeni yang menurut Namrud telah saling menerima untuk berjodoh dalam bersekutu. Dalam perspektif ini, ia dapat disebut sebagai salah satu pejuang bumiputera yang melakukan perlawanan terhadap penetrasi dan hegemoni asing. Walau dalam beberapa kasus, merugikan banyak orang.

Meskipun antara April dan Agustus 1679 Namrud banyak memenangkan daerah di sekitar Jawa Tengah, namun kekuasaannya tidak dapat bertahan lama. Pada sekitar tahun 1683, ekspedisi Komandan Couper berhasil meruntuhkan kedigdayaan pasukan Namrud yang bergerilya di kawasan pedalaman barat dan selatan Jawa Tengah. Namrud pun dihukum VOC di Kartasura.

Hiruk-pikuk kerusuhan, tidak hanya dilakukan Namrud di wilayah Bagelen, Banyumas, semata, beberapa kasus memperlihatkan kelompoknya itu turut pula bergerilya ke wilayah Cirebon dan Priangan. Pada Catatan Kastil Batavia tanggal 6 Juni 1681, diketahui bahwa gerombolan Namrud sempat menyerang kedudukan Pangeran Gebang dan wilayah Losari. Penguasa lokal itu kewalahan.

Akhirnya, Kompeni mengulurkan tangannya untuk memberi pertolongan kepada Cirebon dan Gebang. Dengan mengirim kekuatan militer yang berpengalaman dalam banyak perang, pasukan gabungan Kompeni dan Cirebon beserta tentara bayaran dari bangsa-bangsa lainnya yang berjumlah 1200 orang, berhasil memukul mundur pasukan Namrud hingga tunggang langgang ke wilayah pegunungan di selatan.

READ  Pemkab Cirebon Berkeinginan Miliki Sirkuit dan Taman Edukasi Lalu Lintas

Pasca kejadian itu, Cirebon dan Gebang mempersilahkan VOC untuk membangun benteng di daerah mereka. Selain sebagai tempat garnisun militer yang bisa membantu mereka dalam kegiatan perang, jika terdapat kejadian “gawat”, benteng itu dapat dijadikan sebagai tempat berlindung. Then, benteng itu pun dibangun dan diberi nama Benteng “de Bescherming” yang artinya “Perlindungan”.

Note:
Ilustrasi dari Manuskrip Kuno yang kini tersimpan di British Library. Naskah ini diserahkan Letnan Kolonel Raban, Residen Cirebon, pada 20 Januari 1815. ( Prof Tendy )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: